Gamer Asal Korea Selatan Dipenjara

Seorang Gamer Asal Korea Selatan Dipenjara Setelah Menolak Wajib Militer

 PUBG atau yang biasa dikenal bersama game Battle Royale klasik PlayerUnknown’s Battleground ini tidak dipungkiri telah cukup menjamur dikalangan para genre shooter sementara ini. Yang menariknya, mungkin bisa menjadi beberapa masalah bagi beberapa orang.

Hal ini gara-gara game tersebut, lagi-lagi menjadi keliru satu alasan untuk menampik sebuah kewajiban negara yang sepertinya membuat para hakim geleng-geleng kepala. Seorang gamer dari Korea Selatan pun dipenjara gara-gara game PUBG. Kenapa bisa begitu?

Gamer Asal Korea Selatan Tolak Wajib Militer Berakhir Dipenjara

Terlepas dari bagaimana sebuah game bisa menginspirasi beberapa orang, sepertinya kabar menarik berhembus dari Negeri Gingseng tersebut yang sementara ini masih didalam kondisi bersitegang bersama pihak Korea Utara.

Dengan kondisi yang masih bersitegang bersama Korea Utara, pihak Korea Selatan telah laksanakan harus militer pada siapa saja demi menjaga stabilitas negara tersebut. Menariknya, ada masalah singgah dari seorang gamer yang justru logikanya dipertanyakan atas alasannya menampik wamil ini.

Baca juga:

Alasan Samsung S23 Ultra Masih Menjadi HP Kamera Terbaik 2023

Kejadian Nama Game Horor Yang Berubah Gara-Gara Dituduh Neo-Nazi

Alasan Gamer Tolak Wajib Militer

Melansir dari The Korea Herald, dilaporkan jika Mahkamah Agung Korea Selatan telah mengimbuhkan putusan pada seorang gamer pria. Ia akan mendekam di penjara sepanjang 1 tahun dan 6 bulan sebagai hukuman atas penolakan wamil gara-gara alasan yang cukup menarik.

Mahkamah Agung sebut jika logika gamer asal korsel selanjutnya dipertanyakan kala ia memperlihatkan jika ia tidak sangat menyukai peperangan dan menampik kekerasan. Namun, seluruh aksi dan perilakunya justru diakui bertentangan bersama kepercayaannya tersebut, gara-gara ia ternyata terhitung menyukai bermain PUBG.

Hakim menyebut justru perihal ini tidak seirama bersama apa yang membuatnya ia lebih memilih bermain PUBG namun menampik program harus militer tersebut. Alasan ini pun berdasarkan bagaimana sebuah game yang penuh bersama kekerasan selanjutnya tapi sang terdakwa justru menampik program harus militer ini.

Gamer asal Korsel itu lanjut menegaskan, jika ia menampik harus militer gara-gara was-was akan perintah yang semena-mena dan berpotensi melawan kebijakan Hak Asasi Manusia. Pihak hakim pun memperjelas bahwa penyelewengan perintah tidak akan berjalan didalam program harus militer dan bergantung pula pada kondisi serta kondisi di lapangan.

Apa yang berjalan pada gamer asal Korsel selanjutnya menyebabkan pertanyaan besar atas eksistensi sebuah video game dimata masyarakat secara umum. Sebagaimana tiap-tiap orang harus membedakan dunia virtual hanya dunia virtual yang sama sekali bukanlah realita yang dihadapi sementara ini.

Tentang Penulis

admin3